

Siapa bilang kalau isu penting dan ‘berat’ macam pergolakan politik politik di suatu negara nggak bisa dituangkan dalam bentuk yang ‘ringan’ macam cerita bergambar? Dan siapa bilang kalau isu penting dan ‘berat’ itu nggak bisa diceritakan dari kacamata seorang anak? Novel grafis ini buktinya.
Revolusi Iran; Dongeng Seorang Anak adalah memoar autobiografi sang penulis, Marjane Satrapi. Buku ini aslinya berjudulu Persepolis; The Story of A Childhood, dan merupakan buku pertama dari dua buku serial Persepolis. Pertama-tama, gue kurang tahu kenapa versi terjemahan dari penerbit Resist Book ini diganti judulnya jadi ‘Revolusi Iran’? Apa biar pembaca di Indonesia (sebuah negara yang juga pernah mengalami revolusi) ngerasa lebih familier sama topiknya, dibandingkan judul aslinya, Persepolis, yang merupakan nama ibukota kuno kerajaan Persia? Kedua, gue juga kurang tahu apakah penerbit ini juga menerbitkan Persepolis jilid duanya, karena yang gue baca ini cuma pinjaman dari perpustakaan universitas, dan waktu ngubek-ubek di rak gue cuma berhasil nemu yang jilid satu ini. Semoga sih diterbitin juga ya, secara dua jilid Persepolis itu bersambungan nyeritain tahapan perkembangan hidup Marjane Satrapi dari masa kanak-kanak sampai tumbuh dewasa. Dalam buku jilid pertama ini beliau menceritakan fragmen-fragmen kisah hidupnya sendiri selama rentang tahun 1980 sampai 1984, sejak Marji—panggilan akrab Marjane—berusia sepuluh sampai empat belas tahun.
Sebagai seorang anak kecil, Marji selugu anak-anak lain: awalnya percaya saja ajaran guru dan buku pelajaran sekolahnya bahwa Shah adalah raja yang dipilih Tuhan; nggak paham kenapa setelah Revolusi Islam tahun 1979 terjadi sistem pendidikan sekuler dihapuskan, anak-anak perempuan dan laki-laki harus belajar di sekolah terpisah, dan kenapa anak-anak perempuan jadi diwajibkan mengenakan jilbab padahal menurut mereka itu panas. Marji juga nggak mengerti kenapa orangtuanya yang dideskripsikannya sebagai ”modern dan avant-garde” berdemo menentang ketidakadilan dalam pemerintahan Shah setiap hari, tetapi dalam keluarga mereka sendiri pembantu makan secara terpisah. Hal-hal yang membingungkan ini membuat Marji kecil sempat bercita-cita menjadi seorang nabi, dia bahkan punya “teman imajiner” yang dipercayainya sebagai Tuhan, berupa sosok lelaki tua berjanggut putih yang sering menemaninya tiap malam. Marji kecil sendiri selalu ingin ikut berdemonstrasi bersama orangtuanya, menganggap demo itu keren, mirip perjuangan Che Guevara atau Fidel Castro, tanpa mengerti seberapa bahaya sebenarnya tindakan itu. Ketika Shah akhirnya turun takhta dan para tahanan politik dibebaskan, Marji malah iri kenapa ayahnya tidak pernah dipenjara dan disiksa seperti ayah temannya Laly, karena para tahanan itu dielu-elukan sebagai pahlawan. Kepolosan Marji waktu kecil ini kadang memang bikin gemes sendiri bacanya =)).
Selanjutnya, seiring waktu, Marji semakin menyadari bahwa rezim Islam fundamentalis yang berkuasa setelah rezim Shah ternyata bukannya melegakan justru semakin membatasi kebebasan rakyat. Cara berpakaian Islami diwajibkan, hal-hal yang berbau kebarat-baratan dilarang, termasuk musik, film dan bentuk hiburan lainnya. Jika ketahuan melanggar, akan datang ‘petugas pengawal revolusi’ yang siap “menghukum” mereka—dengan siksaan. Orang-orang yang dianggap oposisi ditangkapi dan dieksekusi. Ketika pecah perang antara Iran dengan Irak keadaan bahkan bertambah buruk lagi: ancaman pesawat-pesawat pengebom yang bisa datang setiap waktu; anak-anak lelaki Iran dicuci otaknya lalu dikirim ke garis depan peperangan sebagai martir; kesulitan memenuhi kebutuhan hidup yang semakin langka; orang-orang yang kehilangan teman atau kerabat yang tewas atau rumah-penghidupan yang hancur karena perang. Selama fase yang ‘berat’ ini, Marji tumbuh menjadi gadis dengan pikiran kritis dan peka terhadap kondisi negara dan orang-orang di sekitarnya.
Bisa dilihat bahwa peran keluarga, terutama kedua orangtua, sangat berpengaruh pada perkembangan diri Marji. Merekalah yang sejak awal membentuk dan mendorong sikap kritis Marji agar semakin berkembang. Mereka membekali Marji dengan buku-buku agar wawasan pengetahuannya bertambah dan pikirannya terbuka. Sikap dan pendirian mereka yang progresif juga turut membentuk sikap Marji yang pemberontak, ingin melawan ketidakadilan yang dirasakan sekitarnya. Gue mencatat ada dua kejadian yang paling membekas pada diri Marji (dan membacanya pun gue ikut ngerasa haru dan nyesek—peraaan kayak pingin ikut nangis), yang bikin sifatnya lebih ‘keras. Dua-duanya pengalaman sewaktu dia kehilangan orang-orang yang disayanginya: paman dan tetangganya. Lucunya, ada satu cerita di mana layaknya anak muda, Marji juga kadang menganggap tingkah orangtua itu bentuk kediktaktoran, dan dia melawan dengan cara mencoba merokok pertama kalinya diam-diam. Meskipun rokok ternyata nggak enak, Marji tetap menandainya sebagai peristiwa ‘beralih’nya dia dari anak-anak jadi orang dewasa :)).
Format yang berupa novel grafis ternyata memang lebih memudahkan gue mengikuti panel demi panel gambarnya, jadi menamatkan buku ini pun cukup semalaman aja. Padahal muatan isi dan pesan yang disampaikan buku ini nggak bisa dibilang ‘ringan’ lho. Gambarnya yang jelas sih memang bukan tipe gambar cantik nan indah a la manga-manga Jepang gitu, kesannya sederhana, tapi rasanya memang lebih cocok ya buat nyeritain tema buku ini yang cukup serius: proses pencarian jati diri seorang anak yang tumbuh di negara yang politiknya nggak stabil. Sayangnya novel grafis itu, bagi gue setidaknya, meski gampang diikuti bukan berarti lebih gampang dipahami secara menyeluruh. Sifatnya jadi impresionis; gue yakin permainan warna atau bentuk gambar tertentu pun bisa ada makna simbolisnya sendiri dalam buku ini, tapi nggak selalu bisa gue tangkap dan pahami dalam sekali-dua kali baca, bahkan baru ngeh waktu gue googling ke beberapa situs—diantaranya ke gradesaver.com. Lalu karena minim teks dan lebih menekankan gambar, ada hal-hal yang jadinya lagi-lagi harus gue googling sendiri biar lebih paham. Misalnya soal sejarah revolusi Iran itu sendiri, gue agak bingung sama kronologis kejadiannya kalau cuma mengandalkan info dari buku ini.
Sudut pandang penceritaan dari mata anak-anak juga jadi salah satu poin plus buku ini, bikin ceritanya ngalir jujur dan bebas, di antara hal-hal serius kadang justru bisa bikin ketawa, diantara hal-hal yang menggembirakan jadi terselip ironi. Lepas dari apakah isi dari buku ini mungkin berpotensi menyinggung pihak-pihak tertentu (kaum fundamentalis Islam, misalnya?) kejujuran Marjane Satrapi yang dituangkan dalam buku ini patut diapresiasi. Sebagai memoar autobiografi, wajar lah kalau buku ini sedikit-banyak pasti juga memuat pandangan dan pendirian pribadi penulisnya sendiri, lepas dari pandangan itu mungkin benar atau salah. Setiap orang—dan dalam konteks buku ini nggak cuma merujuk ke Marji tapi juga relevan buat pihak-pihak yang Marji tentang dalam bukunya—toh pasti memperjuangkan apa yang memang diyakini sebagai baik atau benar. Tapi sewaktu berjuang gigihpun pikiran yang terbuka itu tetap diperlukan, dan penting. Apakah yang kita perjuangkan itu sebenarnya udah keluar jalur dari inti keyakinan kita, atau apakah yang kita perjuangkan itu sebenernya keyakinan buta semata? Boleh direnungi masing-masing :D.
Kalau dari teknis, ada kekurangkonsistenan terjemahan yang gue temukan dalam versinya Resist Book ini: kata ganti orang pertamanya kadang pakai “aku” kadang saya “saya”. Kadang di satu panel merujuk pakai “aku” terus di panel berikutnya langsung ganti jadi “saya” padahal lagi nyeritain orang yang sama. Awalnya bikin bingung apakah ada perubahan konteks cerita, tapi rasanya enggak, cuma ya itu tadi, entah gimana kurang konsisten nerjemahinnya, dan meski sepele tapi kekurangan itu lumayan ngeganggu. Tapi selebihnya menurut gue udah oke.
Buku ini jadi yang pertama buat memenuhi Resolusi Bacaan gue, buat lebih banyak baca termasuk dengan cara minjem buku, nggak melulu beli. Ilmu nggak selalu mahal kan ;)