(r)esensi buku & misc.

sebenarnya, blog ini lebih merupakan wadah saya curhat dan berbagi tentang buku-buku yang saya baca—juga tentang kecintaan saya pada buku secara keseluruhan. Selamat membaca! :D

free counters





2012 Reading Challenge

2012 Reading Challenge
Priska has read 4 books toward her goal of 30 books.
hide


Read the Printed Word!
Recent Tweets @skiedayo

Yah, meskipun sekarang udah minggu-minggu akhir Januari 2012, gue rasa belum telat ngepos ini, kan? Lebih baik telat daripada nggak sama sekali kan? Haha, alesan banget ya :p . Gimanapun, gue sendiri ngerasa tetep perlu buat mempertanggungjawabkan Resolusi Bacaan yang gue bikin untuk tahun 2011 kemarin (bagi yang belum ngeh silakan cek ke sini). Ibaratnya kalau menjalankan sebuah proyek itu musti ada LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban)-nya. Dan bukan berarti pula gue berhasil dengan gilang gemilang ngejalanin resolusi kemarin lho >_<, justru banyak target poin yang belum tercapai bikin gue merasa makin butuh buat mempertanggungjawabkan itu kepada pembaca blog gue, sekaligus diri gue sendiri.

Pokoknya langsung aja cekidot… tapi siap-siap ya, panjang soalnya ‘ ‘)/


2011, Refleksi dan Evaluasi

Jadi selama rentang waktu Januari-Desember 2011 kemarin, totalnya ada 21 buku yang berhasil gue tamatkan, yaitu:

1. Taman Rahasia (The Secret Garden) – Frances Hodgson Burnett

2. The Phantom of the Opera – Gaston Leroux

3. Lautan Monster (The Sea of Monsters) – Rick Riordan

4. Kutukan Bangsa Titan (The Titan’s Curse) – Rick Riordan

5. Manjali dan Cakrabirawa – Ayu Utami

6. The Wizard of Oz – L. Frank Baum

7. Galaksi Kinanthi – Tasaro GK

8. Pride and Prejudice – Jane Austen

9. Maria – Vladimir Nabokov

10. Dr. Jekyll dan Mr. Hyde – Robert Louis Stevenson

11. The Sword in the Stone – T.H. White

12. Perahu Kertas – Dee

13. Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

14. The Day of the Jackal – Frederick Forsyth

15. Anak Semua Bangsa – Pramoedya Ananta Toer

16. Heidi – Johanna Spyri

17. Becoming Che – Carlos “Calica” Ferrer

18. Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

19. Norwegian Wood – Haruki Murakami

20. Boy: Kisah Masa Kecil (Boy Tales of Childhood) – Roald Dahl

21. Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia (Totto-Chan: A Goodwill Journey to the Children of the World) – Tetsuko Kuroyanagi

Adapun poin per poin dari Resolusi Bacaan 2011 gue silakan dicek sebagai berikut:

1. membaca minimal empat buku NONFIKSI, sangat dianjurkan lebih

…..hng, sedih ya, baru juga poin resolusi nomor satu ternyata… nggak terpenuhi. Padahal nyaris, lho, meskipun caranya mungkin agak-agak ‘nakal’ dikit. Totalnya ada tiga buku nonfiksi yang gue baca tahun lalu: Becoming Che-nya Carlos “Calica” Ferrer, Boy Tales of Childhood-nya Roald Dahl, dan Totto-Chan: A Goodwill Journey to the Children of the World-nya Tetsuko Kuroyanagi. Kenapa gue bilang caranya “nakal”? Well, karena meskipun nonfiksi, penjabaran ketiga buku itu masih berupa narasi cerita, jadi hampir sama aja kayak membaca fiksi.

Dua diantara tiga buku itu, Becoming Che sama Boy, berhasil gue tamatkan dengan cepat karena kisahnya yang menarik. Sebaliknya yang stau lagi, Totto-chan, perlu perjuangan lebih keras buat menamatkannya: bacanya pelan-pelaan banget, sering keselak sama buku lain pula =)). Mungkin karena isinya yang banyak menggambarkan penderitaan anak-anak sedunia, jadi harus nguatin mental dulu bacanya ;w;. Buku ini baru berhasil dikebut di hari-hari terakhir bulan Desember kemarin, biar laporan pertanggungjawaban gue di sini nggak kelihatan jelek-jelek amat, gitu =))

Meskipun secara jumlah cuma kurang satu buku dari dari target, tetap jadi catatan penting bagi diri sendiri bahwa ternyata gue masih belum berhasil men-challenge diri buat baca nonfiksi yang lebih ‘berat’, entah dari segi bahasa maupun segi isi yang ngebahas hal-hal lebih serius dan mendalam.

2. Ngelanjutin resolusi taun lalu, baca minimal empat buku karya PENGARANG INDONESIA yang bukan dari genre metropop atau teenlit atau fantasi, sangat dianjurkan lebih

Nah… bisa tarik nafas lega buat poin ini, karena gue berhasil menamatkan enam buku karya pengarang lokal sepanjang tahun 2011 kemarin: Manjali dan Cakrabirawa-nya Ayu Utami, Galaksi Kinanthi-nya Tasaro GK, dua buku dari Pramoedya Ananta Toer yaitu Bumi Manusia dan lanjutannya Anak Semua Bangsa, Perahu Kertas-nya Dee, dan terakhir Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari. Dilihat sekilas dari segi kuantitas, ternyata memang masih kalah dari jumlah karya pengarang lokal yang gue baca di tahun 2010 yaitu delapan buku, tapi boleh dong gue berbangga dikit dari segi kualitasnya: udah meningkat :D. Kalau selama 2010 karya pengarang lokal yang gue baca kebanyakan masih genre teenlit/metropop, tahun 2011 gue lumayan menjajal genre sastra dengan baca Pram, Ahmad Tohari, sama Ayu Utami. Masih ada sih yang bisa dikategoriin teenlit yaitu Perahu Kertas, tapi kayak yang pernah gue tulis dalam review buku itu: teenlitnya seorang Dee itu toh ‘beda’ dari teenlit kebanyakan ;).

Ada satu hal yang gue temukan dan nikmati waktu baca karya pengarang lokal: kamu bakal nemuin gaya bahasa yang lebih indah, eksplorasi diksi dan kosakata yang lebih kaya daripada kalau baca buku terjemahan, jadi bagus buat inspirasi nulis juga. Coba deh :D.

3. mengurangi konsumsi novel:

- fantasi yang ‘latahan’ Harry Potter atau Twilight atau The Lord of the RIngs, apalagi yang serialnya panjang dan di negara asalnya aja belom tamat

- apapun yang lebih mengutamakan alur dibandingkan muatan isi cerita

Setelah ditinjau ulang… poin ini emang agak rancu ya, nggak ada tolak ukur konkretnya gitu =)). Tujuan tahun lalu gue membatasi bacaan dalam genre-genre tersebut, adalah karena sejak SD bacaan gue udah didominasi terutama sama fantasi, padahal ama kelamaan gue pingin ngembangin wawasan juga dengan merambah ke genre-genre lainnya. Ditambah serial fantasi sekarang makin menjamur jumlahnya, padahal banyak di antaranya (setidaknya bagi gue) yang inti kisahnya sama aja kayak serial fantasi yang emang lebih dulu populer (penyihir a la Harry Potter, vampir a la Twilight, elf a la LOTR, dst). Apalagi kalau serialnya panjang, dalam diri gue biasanya ada ‘dorongan batin’ buat tetep ngikutin serialnya begitu gue baca buku pertamanya, meski ceritanya ‘latahan’ begitu. Padahal dengan kocek mahasiswa yang terbatas, hei, gue pikir uang sejumlah itu bisa aja dibeliin buat buku jenis lain, kan? Belum lagi tekanan batin jenis lain kalau sekuelnya ternyata masih nggak pasti kapan terbitnya (LOL), dan mungkin juga… ada faktor kecewa sewaktu terakhir kali gue coba ngoleksi satu serial yang ternyata ada 11 jilid, penerbit lokal yang nerbitin buku itu kayaknya mutusin buat nggak nerusin serial itu (mungkin karena dianggap “kurang laku” di pasaran lokal), jadi sampai sekarang baru terbit sampai buku-2nya aja. Bikin kapok juga. Makanya maklumi ya..

Lantas overall tahun lalu gue emang mulai ngurangin genre fantasi dan bacaan-bacaan yang bersifat ‘ringan’, dan nyoba milih bacaan yang temanya bikin mikir dikit. Meski bukan berarti dihilangkan total, toh buktinya gue masih baca Percy Jackson yang bergenre fantasi. Kadang ternyata tetep butuh bacaan ringan buat refreshing di antara kesibukan, sih (alesan lagi) :p.

4. memperbanyak konsumsi novel KLASIK dan novel-novel yang udah secara formal diakui bagus baik nasional maupun internasional (misalnya menang Pulitzer atau Man Booker Prize, sekedar embel-embel ‘Bestseller’ nggak termasuk)

Kasarnya, baru 30-40% dari total bacaan gue tahun 2011 lalu yang termasuk klasik. The Phantom of the Opera, The Secret Garden, Pride and Prejudice, itu beberapa judul di antaranya. Bumi Manusia sama Anak Semua Bangsa mungkin bisa juga dikategorikan klasik dari negeri sendiri. Tetap aja jumlah ini belum memuaskan gue. Kalau menyambangi toko buku, coba lihat judul buku klasik terjemahan sekarang melimpah ruah. Masih banyak, banyak banget yang pingin banget gue baca tapi belum kesampaian. Padahal itu baru yang udah diterjemahin ya, belum yang masih beredar dalam bahasa aslinya di luar sana…. *sigh*

5. Sebelum beli novel selalu riset dulu dari internet buku itu bagus atau nggak (banyak lho blog-blog review buku bagus yang gue terinspirasi dari mereka :-) )

Intinya gue semakin selektif milih apa yang mau gue baca. Biasanya kalau liat judul yang kelihatannya menarik gue survei dulu di Goodreads atau dari hasil review blogger buku lainnya: cari tahu ceritanya tentang apa, dan terutama gimana respon pembacanya, kalau banyak yang bilang bagus barulah gue baca. Bukan cuma dari segi isi, misalnya kalau bukunya terjemahan gue sering cari tahu juga terjemahannya bagus apa enggak, karena gue termasuk rewel dan sebel sama terjemahan yang nggak nyaman dibaca. :p

Jeleknya poin resolusi ini adalah list baca gue biasanya jadi nggak up-to-date. Begitu bukunya terbit biasanya nggak gue baca dulu, melainkan gue tunggu sampai dapat respon yang memuaskan.

6. Setiap setelah selesai baca satu buku, BIKIN ULASANNYA DAN POSTING DI BLOG INI :)

……… ini kayaknya dosa paling besar gue buat blog ini dan para pembacaku ya ;w;.

Dari total 21 buku itu cuma 11 buku yang udah gue review.  Adapun 10 lainnya… gue akan mencoba dan semoga suatu hari bisa merealisasikan semua review-nya dalam blog ini, tapi kalau ternyata nggak berhasil nggak ya… maaf ya *sungkemin pembaca blog ini satu-satu*; w;. Gue sadar ada bulan-bulan gue seolah nelantarin blog ini sama sekali, alih-alih bikin review, bahkan nge-reblog pun enggak. Ada alesannya sih, karena gue terlampau ‘sibuk’ ngurusin hal lain… akan gue jelasin nanti.

7. Well, aslinya di resolusi gue tahun 2011 cuma ada 6 poin, tapi di evaluasi ini gue tambahin satu poin lagi karena waktu bikin postingan di akhir tahun 2010 itu gue belum masukin challenge reading yang gue ikutin di Goodreads. Challenge-nya itu sederhana padahal, nargetin sekian jumlah buku buat dibaca tahun 2011. Jumlah yang gue targetin termasuk nggak banyak, cuma 30 buku, tapi apa daya sampai detik terakhir menjelang pergantian buku cuma 21 atau sama dengan 70% dari challenge itu yang berhasil gue capai .___.

Lagi-lagi, overall gue kurang puas dengan hasil bacaan gue tahun 2011 kemarin, dengan serangkaian target yang belum tercapai atau cuma ”nanggung” tercapainya. Gue mencoba menelusuri beberapa faktor yang mempengaruhi kekurangberhasilan gue, dan gue harus mengakui… gue terutama masih lemah dalam hal pengelolaan uang dan waktu yang gue punya >__>.

Dari segi ekonomi gue belum berpenghasilan sendiri, masih bergantung sama uang bulanan dari orangtua, tapi biasanya pun gue sisihkan beberapa buat dijajanin buku. Sayangnya tahun kemarin ada beberapa kejadian nggak terduga yang bikin pengeluaran gue harus bertambah—dan otomatis mempersempit jatah jajan buku—misalnya waktu mengganti hanphone gue hilang… karena kecerobohan gue sendiri pula OTL. Sebenernya soal keuangan bisa aja gue akalin dengan minjem buku ke orang—pengetahuan bisa didapat nggak harus dengan uang, gue tahu—cuma masalah keras kepalanya gue aja, ngerasa ada beberapa jenis buku yang gue harus punya, harus dikoleksi, kurang afdol kalo cuma minjem >__<

Dari segi waktu… nah, ini. Kesibukan kuliah gue semester terakhir kemaren emang menggila; mata kuliah yang diambil lebih banyak, tugas-tugas lebih sering dikasih, ujian yang bentuknya berbagai rupa (ada yang praktek & tertulis) yang susul menyusul. Tapi itu nggak cukup buat pembelaan, karena sewaktu gue liburan pun seringkali gue tetap menelantarkan blog ini. dan pembelaan terbagus yang bisa gue kasih untuk itu adalah karena waktu gue teralihkan buat…. Nulis. Oh, jangan dibayangin nulis buku atau yang semacemnya, padahal yang gue tulis juga bukan yang bermanfaat buat orang banyak .__. Jadi gue nulis fiksi di sebuah Role Play Forum (RPF) berbasis teks yang berlatarkan Potterverse, yang kayaknya beberapa kali pernah gue singgung sekilas juga di blog ini, yaitu IndoHogwarts. Di sana gue menghidupkan dan memainkan sebuah karakter fiksi lewat kata-kata, yang ceritanya murid Hogwarts dan menjalani rutinitas sehari-hari di kastil sekolahnya Harry Potter itu. Dan itu sungguhan melenakan, kawan. Gue dapet banyak hal di sana: belajar ngebiasain diri nulis dan ngembangin tulisan sendiri; dapet kesempatan ngelihat tulisan dari member lain yang nggak jarang tulisan mereka bagus-bagus banget, padahal penulisnya mungkin belum punya nama di dunia perliteraturan cetak; dan bisa kenalan sama orang-orang baru juga, sesama member yang main di forum itu. Dan begitulah gimana gue jadi sering lupa bahwa di pelosok lain internet ini gue masih punya blog yang harus gue urusi…..

2012: Resolusi….?

Well, kayaknya lucu aja kalau gue bikin resolusi baru padahal resolusi tahun lalu gue aja belum terpenuhi. Tapi resolusi baru toh gue rasa tetep dibutuhin buat nyemangatin gue membaca, plus menjaga biar bacaan gue nggak semakin ‘keluar jalur’ setahun ini. Maka setelah mengingat dan menimbang, gue pun memutuskan Resolusi Bacaan 2012 gue adalah:

1. Ngelanjutin Resolusi 2011 yang belum tercapai, mencakup:

a. Baca minimal empat buku NONFIKSI (untuk genrenya masih gue bebaskan deh. Mungkin masih lebih suka baca memoar yang gaya bahasanya kayak bercerita, tapi moga-moga meningkat juga ke genre lain)

b. Baca minimal tujuh buku KLASIK (tadinya mau gue kasih target 12 buku sekalian, jadi 1 buku klasik per bulan. Tapi takut malah terlalu memaksakan diri gue juga, jadi bersandar sama kenyataan yang udah berhasil gue capai tahun 2011 aja)

c. Baca minimal tujuh buku karya PENGARANG INDONESIA (diantara jumlah tahun 2010 dengan tahun 2011)

d. Ikut Reading Challenge Goodreads: baca 30 buku sepanjang tahun ini.

2. Baca lima buku HASIL PINJAMAN. (Yup, nyiasatin keterbatasan ekonomi juga, haha. Perpustakaan universitas gue itu konon yang terbesar se-Asia Tenggara, jadi mumpung gue masih terdaftar jadi mahasiswanya kenapa nggak gue manfaatkan fasilitas itu?)

3. Namatin serial-serial yang lagi gue ikuti sekarang (maksudnya biar ‘utang lunas’, gitu :p) mencakup:

- serial SUPERNOVA-nya Dee (gue belum baca Petir, dan katanya buku keempatnya Partikel udah bakal keluar 2012 ini)

- TETRALOGI BURU-nya Pramoedya Ananta Toer (kurang Jejak Langkah sama Rumah Kaca yang belum dibaca)

- serial PERCY JACKSON AND THE OLYMPIANS (kurang buku keempat sama kelima doang, nanggung >_<)

Notes: buat poin ketiga ini gue utamakan yang sekuel-sekuelnya memang udah beredar di pasaran. Inheritance-nya Christopher Paolini katanya bakal keluar terjemahannya juga tahun ini, juga semoga Gramedia beneran nerbitin dua lagi terjemahan sekuel Inkheart yang mandek sejak 2009. Gue akan usahakan baca ini semua tuntas di 2012 juga, tapi tergantung waiting list gue waktu itu juga ya :p

4. Setelah selesai baca sebuah buku, resensi dan pos di blog ini. O:)

Empat poin itu (beranak pula tiap poinnya) kayaknya udah cukup. Terlalu banyak atau terlalu ketat bikin target nanti malah mengurangi kesenangan membaca itu sendiri, ga seru lagi dong :p