Cecilia dan Malaikat Ariel (Through The Glass, Darkly)

- Judul Buku : Cecilia dan Malaikat Ariel (Through the Glass, Darkly)
- Pengarang : Jostein Gaarder
- Penerjemah : Andityas Prabantoro
- Penerbit : Mizan
- Cetakan : II, Februari 2009
- Ukuran : 216 hlm; 20,5 cm
- Nilai: B
Ini dia novel Jostein Gaarder pertama yang akhirnya berhasil tamat gue baca (setelah Dunia Sophie sebelumnya tersendat di tengah jalan sejak awal tahun lalu). Malahan, inilah novel Jostein Gaarder pertama yang tamat gue baca sampai DUA kali, yang berarti juga inilah buku pertama di tahun 2012 ini yang gue bela-belain baca sampe dua kali.
Bingung? Makanya pegangan :p *plakk*
Jumlah halamannya yang terbilang tipis—kurang dari tiga ratusan halaman—bikin gue awalnya mengira buku ini bisa ditamatkan cukup dalam sehari-dua. Ternyata salah. Buku ini, yang udah dibeli sejak akhir tahun kemarin, butuh beberapa minggu buat sekali menamatkannya. Terus setelah tamat, gue malah meniatkan diri buat baca ulang lagi dari awal, demi biar lebih paham ceritanya.
Karena waktu kali pertama gue membuka halaman buku ini dan mencoba menyelami isinya… adanya kening gue makin lama berkerut makin dalam. Bingung. Well, mungkin… karena gagasan-gagasan dalam buku ini berlandaskan pada konsep dalam Alkitab, dan karena gue bukan penganut Kristiani (tapi nggak ada maksud sama sekali buat menyinggung SARA dengan mengungkapkan begini lho ya) maka pemahaman gue akan isi buku ini jadi setengah-setengah. Kemudian karena dalam keyakinan gue ada beberapa konsep yang cukup berbeda dengan konsep-konsep yang dipakai dalam buku ini, maka ketika pertama kali baca dan kedua konsep itu ‘bertabrakan’ dalam otak gue, gue sempat nggak yakin apakah bisa menyukai gagasan-gagasannya Jostein Gaarder di sini atau nggak.
Tapi justru karena itulah gue mutusin buat baca ulang lagi dari awal. Waktu baca kedua kalinya itu gue menyiapkan diri dengan pikiran yang lebih terbuka, jadi gue berusaha menikmati aja gagasan-gagasan sang guru filsafat satu ini tentang manusia, malaikat, dunia, surga, Tuhan, sebagaimana adanya yang tertuang dalam buku ini.
Garis besar ceritanya sendiri sebenarnya sederhana: ada seorang anak perempuan, Cecilia Skotbu namanya, yang sakit berat sehingga harus berbaring di tempat tidur hampir sepanjang waktu. Ketika hari Natal tiba, Cecilia sampai harus dibopong turun oleh ayahnya agar bisa berkumpul bersama keluarganya di ruang bawah. Begitupun Cecilia tetap nggak bisa menikmati makanan-makanan enak khas Natal, terutama nggak bisa ke luar buat bermain dengan papan ski dan toboggan (kereta luncur) baru hadiah Natalnya. Tetapi malam itulah pertama kalinya muncul sesosok anak-anak di kamar Cecilia, bernama Ariel. Dan meskipun awalnya Cecilia sulit percaya, Ariel adalah malaikat Tuhan. Ariel-lah yang kemudian sering menemani Cecilia selama hari-hari sakitnya, sewaktu lagi nggak ada orang lain lagi yang sedang bersama Cecilia. Mereka mengobrol tentang banyak hal. Karena malaikat ternyata nggak mengetahui rasanya jadi manusia yang terbuat dari darah dan daging, padahal Ariel penasaran, mereka kemudian membuat perjanjian: Ariel akan menceritakan lebih banyak tentang rahasia surga, kalau Cecilia juga menceritakan rahasia bumi—bagaimana rasanya jadi manusia.
Dan memang isi obrolan Ariel-Cecilia itulah yang jadi inti buku ini. Dalam obrolan mereka tertuang gagasan-gagasan yang mungkin belum pernah gue bayangkan sebelumnya. Misalnya—umm, bagi yang nggak menginginkan spoiler mungkin silakan skip aja bagian selanjutnya ini :D—soal teka-teki kuno: mana yang lebih dulu, ayam atau telur? Ariel menjawabnya tentu saja telur dulu yang ada, karena anak-anak manusia juga yang lebih dulu ada. Kalau nggak ada anak-anak maka nggak akan ada orang dewasa. Waktu pertama diciptakan, Adam dan Hawa adalah anak-anak yang berlarian di Taman Firdaus Tuhan. Tapi karena dibujuk ular untuk makan buah dari Pohon Pengetahuan, semakin banyak buah yang mereka makan, semakin dewasa pula mereka, sampai akhirnya mereka pun terusir ke luar dari surga masa kanak-kanak. Tapi dengan menjadi dewasanya mereka, meskipun itu bentuk hukuman tapi sekaligus juga jadi sumber kegembiraan Tuhan, karena dengan demikian anak-anak terus terlahir.
Gagasan lainnya adalah perbedaan antara malaikat dan manusia. Gambaran malaikat di sini beda sama gambaran umumnya: sosok dewasa dan bersayap. Ariel bersosok anak-anak karena malaikat tidak bertumbuh, jadi mereka nggak akan dewasa maupun mati. Sayap pun nggak dibutuhkan karena malaikat nggak bergerak dengan cara yang sama dengan manusia, pun cara mereka melihat dan mendengar berbeda. Dan bedanya lagi, malaikat nggak punya panca indera seperti manusia. Mereka nggak bisa merasakan sakit, dingin, rasa-rasa makanan, nggak bisa mencium bau, dsb. Tapi manusia, dengan pikirannya bisa melakukan apa yang dilakukan malaikat.
Dari gagasan-gagasan tersebut, salah satu kesimpulan yang bisa gue tarik adalah Jostein Gaarder mengajak kita buat mensyukuri diri kita sebagai manusia yang sempat hidup di semesta raya ini. Beliau mengingatkan biar kita nggak putus kontak dengan sisi anak-anak dalam diri kita, karena anak-anak mirip malaikat dalam hal rasa ingin tahunya yang besar terhadap dunia. Berbeda dengan orang dewasa yang menganggap dunia ini biasa-biasa aja, padahal malaikat saja—yang udah hidup sejak awal penciptaan—masih terus terheran-heran dengan hasil ciptaan Yang Maha Kuasa. Bahkan cara kita melakukan segala sesuatu sehari-hari—sekedar bagaimana kita tidur, bermimpi, mengingat atau melupakan sesuatu—pun sebenarnya misterius dan menakjubkan kalau direnungi dalam-dalam, maka memang sepantasnya kita syukuri. Kayak kata Ariel ke Cecilia:
“Kau adalah hewan denan ruh malaikat, Cecilia. Itu berarti, kau dianugerahi hal-hal terbaik dari dua dunia. Tidakkah itu bagus?” (hlm. 50)
Sayangnya pada akhirnya, meskipun udah dua kali baca bukan berarti gue berhasil memahami seluruh gagasan dalam buku ini. Masih ada beberapa bagian yang masih membingungkan gue, terutama bagian waktu Ariel mengungkapkan rahasia-rahasia surgaNya, misalnya bagian bahwa “ada yang tak benar di alam semesta ini. ada cacat dalam keseluruhan rencana agung ini.” rasanya maih susah gue tangkap maksudnya. Rasanya pandangan gue terhadap buku ini masih samar-samar, mungkin sama kayak pandangan manusia dan malaikat soal rahasia-rahasia Tuhan?
“Kita melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Kadang-kadang, pandangan kita bisa menembus kaca dan melihat apa yang ada di balik cermin. Jika kita menggosok cermin itu sebersih-bersihnya, kita akan melihat lebih banyak lagi. tapi, kita tak bisa lagi melihat diri kita sendiri.” (hlm. 186)
Hmm, selain itu beberapa kekurangan lain yang gue rasai dari buku ini, yang mungkin emang disebabkan bukunya lebih menekankan ke isi dialog antara Cecilia dan Ariel, plot sama pendalaman karakternya rasanya jadi agak kurang tergali. Waktu pertama kali baca mungkin bosan lama-lama nyimak kedua makhluk Tuhan ini cuma ngobrol terus. Lalu karakternya Cecilia, kalaupun sebenarnya dia memang marah sama Tuhan karena penyakitnya, rasanya nggak terlalu tertangkap dalam buku ini. Cuma kadang-kadang dia mendadak ngambek kalau lagi ngobrol sama Ariel, dan menolak membicarakan topik-topik tertentu, itu pun kadang gue juga nggak terlalu ngeh kenapa, padahal bagi gue topik yang lagi dibicarakan itu sebenernya baik-baik aja.
Well, tapi lepas dari kekurangan-kekurangannya, gagasan-gagasan Jostein Gaarder di sini bagus-bagus buat bahan renungan. Yang jelas jangan cuma mengandalkan satu-dua gagasan yang gue tulis kembali di review kecil ini karena masih banyak, banyaak lagi yang bisa didapetin dari bukunya. Gaya bahasanya—selain gagasan-gagasannya itu sendiri aja udah—indah pula. Gue tetep merekomendasikan buku ini buat dibaca. Minimal, bisa membukakan perspektif baru :D
Buat tambahan informasi, buku ini udah pernah difilmkan di negeri asalnya di Norwegia sana, di tahun 2008. Gue baru ngintip trailernya di sini dan, hmm… kayaknya ada beberapa perbedaan antara versi film dan buku. Cecilia versi film lebih remaja dan Ariel-nya diperankan aktor dewasa (mungkin karena susah nyari aktor anak-anak yang bisa meranin sang malaikat yang polos sekaligus syahdu?), dan ada tambahan romance yang nggak ada di versi buku (mungkin lagi-lagi karena plot bukunya yang cenderung datar, jadi kalau diangkat jadi film butuh ditambah beberapa bumbu pemanis?). However, filmnya yang berjudul “I et speil i en gåte” ini udah memenangkan beberapa penghargaan, diantaranya Amanda Awards di Norwegia buat kategori Best Children’s or Youth Film dan di Chicago International Children’s Film Festival buat kategori Live-Action Feature Film or Video - Foreign Language, jadi rasanya tetap layak dicari dan ditonton. Dan ada motivator tambahan bagi gue pribadi buat memburu film ini… habisnya cowok yang jadi summer crush-nya Cecilia di situ, itu kok lucu sih, kok cakep sih .////. #eaaa #ujungujungnya #malahfangirling #dhuakk
