January312012

Cecilia dan Malaikat Ariel (Through The Glass, Darkly)


  • Judul Buku : Cecilia dan Malaikat Ariel (Through the Glass, Darkly)
  • Pengarang : Jostein Gaarder
  • Penerjemah : Andityas Prabantoro
  • Penerbit : Mizan
  • Cetakan : II, Februari 2009
  • Ukuran : 216 hlm; 20,5 cm
  • Nilai: B

Ini dia novel Jostein Gaarder pertama yang akhirnya berhasil tamat gue baca (setelah Dunia Sophie sebelumnya tersendat di tengah jalan sejak awal tahun lalu). Malahan, inilah novel Jostein Gaarder pertama yang tamat gue baca sampai DUA kali, yang berarti juga inilah buku pertama di tahun 2012 ini yang gue bela-belain baca sampe dua kali.

Bingung? Makanya pegangan :p *plakk*

Jumlah halamannya yang terbilang tipis—kurang dari tiga ratusan halaman—bikin gue awalnya mengira buku ini bisa ditamatkan cukup dalam sehari-dua. Ternyata salah. Buku ini, yang udah dibeli sejak akhir tahun kemarin, butuh beberapa minggu buat sekali menamatkannya. Terus setelah tamat, gue malah meniatkan diri buat baca ulang lagi dari awal, demi biar lebih paham ceritanya.

Karena waktu kali pertama gue membuka halaman buku ini dan mencoba menyelami isinya… adanya kening gue makin lama berkerut makin dalam. Bingung. Well, mungkin… karena gagasan-gagasan dalam buku ini berlandaskan pada konsep dalam Alkitab, dan karena gue bukan penganut Kristiani (tapi nggak ada maksud sama sekali buat menyinggung SARA dengan mengungkapkan begini lho ya) maka pemahaman gue akan isi buku ini jadi setengah-setengah. Kemudian karena dalam keyakinan gue ada beberapa konsep yang cukup berbeda dengan konsep-konsep yang dipakai dalam buku ini, maka ketika pertama kali baca dan kedua konsep itu ‘bertabrakan’ dalam otak gue, gue sempat nggak yakin apakah bisa menyukai gagasan-gagasannya Jostein Gaarder di sini atau nggak.

Tapi justru karena itulah gue mutusin buat baca ulang lagi dari awal. Waktu baca kedua kalinya itu gue menyiapkan diri dengan pikiran yang lebih terbuka, jadi gue berusaha menikmati aja gagasan-gagasan sang guru filsafat satu ini tentang manusia, malaikat, dunia, surga, Tuhan, sebagaimana adanya yang tertuang dalam buku ini.

Garis besar ceritanya sendiri sebenarnya sederhana: ada seorang anak perempuan, Cecilia Skotbu namanya, yang sakit berat sehingga harus berbaring di tempat tidur hampir sepanjang waktu. Ketika hari Natal tiba, Cecilia sampai harus dibopong turun oleh ayahnya agar bisa berkumpul bersama keluarganya di ruang bawah. Begitupun Cecilia tetap nggak bisa menikmati makanan-makanan enak khas Natal, terutama nggak bisa ke luar buat bermain dengan papan ski dan toboggan (kereta luncur) baru hadiah Natalnya. Tetapi malam itulah pertama kalinya muncul sesosok anak-anak di kamar Cecilia, bernama Ariel. Dan meskipun awalnya Cecilia sulit percaya, Ariel adalah malaikat Tuhan. Ariel-lah yang kemudian sering menemani Cecilia selama hari-hari sakitnya, sewaktu lagi nggak ada orang lain lagi yang sedang bersama Cecilia. Mereka mengobrol tentang banyak hal. Karena malaikat ternyata nggak mengetahui rasanya jadi manusia yang terbuat dari darah dan daging, padahal Ariel penasaran, mereka kemudian membuat perjanjian: Ariel akan menceritakan lebih banyak tentang rahasia surga, kalau Cecilia juga menceritakan rahasia bumi—bagaimana rasanya jadi manusia.

Dan memang isi obrolan Ariel-Cecilia itulah yang jadi inti buku ini. Dalam obrolan mereka tertuang gagasan-gagasan yang mungkin belum pernah gue bayangkan sebelumnya. Misalnya—umm, bagi yang nggak menginginkan spoiler mungkin silakan skip aja bagian selanjutnya ini :D—soal teka-teki kuno: mana yang lebih dulu, ayam atau telur? Ariel menjawabnya tentu saja telur dulu yang ada, karena anak-anak manusia juga yang lebih dulu ada. Kalau nggak ada anak-anak maka nggak akan ada orang dewasa. Waktu pertama diciptakan, Adam dan Hawa adalah anak-anak yang berlarian di Taman Firdaus Tuhan. Tapi karena dibujuk ular untuk makan buah dari Pohon Pengetahuan, semakin banyak buah yang mereka makan, semakin dewasa pula mereka, sampai akhirnya mereka pun terusir ke luar dari surga masa kanak-kanak. Tapi dengan menjadi dewasanya mereka, meskipun itu bentuk hukuman tapi sekaligus juga jadi sumber kegembiraan Tuhan, karena dengan demikian anak-anak terus terlahir.

Gagasan lainnya adalah perbedaan antara malaikat dan manusia. Gambaran malaikat di sini beda sama gambaran umumnya: sosok dewasa dan bersayap. Ariel bersosok anak-anak karena malaikat tidak bertumbuh, jadi mereka nggak akan dewasa maupun mati. Sayap pun nggak dibutuhkan karena malaikat nggak bergerak dengan cara yang sama dengan manusia, pun cara mereka melihat dan mendengar berbeda. Dan bedanya lagi, malaikat nggak punya panca indera seperti manusia. Mereka nggak bisa merasakan sakit, dingin, rasa-rasa makanan, nggak bisa mencium bau, dsb. Tapi manusia, dengan pikirannya bisa melakukan apa yang dilakukan malaikat.

Dari gagasan-gagasan tersebut, salah satu kesimpulan yang bisa gue tarik adalah Jostein Gaarder mengajak kita buat mensyukuri diri kita sebagai manusia yang sempat hidup di semesta raya ini. Beliau mengingatkan biar kita nggak putus kontak dengan sisi anak-anak dalam diri kita, karena anak-anak mirip malaikat dalam hal rasa ingin tahunya yang besar terhadap dunia. Berbeda dengan orang dewasa yang menganggap dunia ini biasa-biasa aja, padahal malaikat saja—yang udah hidup sejak awal penciptaan—masih terus terheran-heran dengan hasil ciptaan Yang Maha Kuasa. Bahkan cara kita melakukan segala sesuatu sehari-hari—sekedar bagaimana kita tidur, bermimpi, mengingat atau melupakan sesuatu—pun sebenarnya misterius dan menakjubkan kalau direnungi dalam-dalam, maka memang sepantasnya kita syukuri. Kayak kata Ariel ke Cecilia:

“Kau adalah hewan denan ruh malaikat, Cecilia. Itu berarti, kau dianugerahi hal-hal terbaik dari dua dunia. Tidakkah itu bagus?” (hlm. 50)

Sayangnya pada akhirnya, meskipun udah dua kali baca bukan berarti gue berhasil memahami seluruh gagasan dalam buku ini. Masih ada beberapa bagian yang masih membingungkan gue, terutama bagian waktu Ariel mengungkapkan rahasia-rahasia surgaNya, misalnya bagian bahwa “ada yang tak benar di alam semesta ini. ada cacat dalam keseluruhan rencana agung ini.” rasanya maih susah gue tangkap maksudnya. Rasanya pandangan gue terhadap buku ini masih samar-samar, mungkin sama kayak pandangan manusia dan malaikat soal rahasia-rahasia Tuhan?

“Kita melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Kadang-kadang, pandangan kita bisa menembus kaca dan melihat apa yang ada di balik cermin. Jika kita menggosok cermin itu sebersih-bersihnya, kita akan melihat lebih banyak lagi. tapi, kita tak bisa lagi melihat diri kita sendiri.” (hlm. 186)

Hmm, selain itu beberapa kekurangan lain yang gue rasai dari buku ini, yang mungkin emang disebabkan bukunya lebih menekankan ke isi dialog antara Cecilia dan Ariel, plot sama pendalaman karakternya rasanya jadi agak kurang tergali. Waktu pertama kali baca mungkin bosan lama-lama nyimak kedua makhluk Tuhan ini cuma ngobrol terus. Lalu karakternya Cecilia, kalaupun sebenarnya dia memang marah sama Tuhan karena penyakitnya, rasanya nggak terlalu tertangkap dalam buku ini. Cuma kadang-kadang dia mendadak ngambek kalau lagi ngobrol sama Ariel, dan menolak membicarakan topik-topik tertentu, itu pun kadang gue juga nggak terlalu ngeh kenapa, padahal bagi gue topik yang lagi dibicarakan itu sebenernya baik-baik aja.

Well, tapi lepas dari kekurangan-kekurangannya, gagasan-gagasan Jostein Gaarder di sini bagus-bagus buat bahan renungan. Yang jelas jangan cuma mengandalkan satu-dua gagasan yang gue tulis kembali di review kecil ini karena masih banyak, banyaak lagi yang bisa didapetin dari bukunya. Gaya bahasanya—selain gagasan-gagasannya itu sendiri aja udah—indah pula. Gue tetep merekomendasikan buku ini buat dibaca. Minimal, bisa membukakan perspektif baru :D

Buat tambahan informasi, buku ini udah pernah difilmkan di negeri asalnya di Norwegia sana, di tahun 2008. Gue baru ngintip trailernya di sini dan, hmm… kayaknya ada beberapa perbedaan antara versi film dan buku. Cecilia versi film lebih remaja dan Ariel-nya diperankan aktor dewasa (mungkin karena susah nyari aktor anak-anak yang bisa meranin sang malaikat yang polos sekaligus syahdu?), dan ada tambahan romance yang nggak ada di versi buku (mungkin lagi-lagi karena plot bukunya yang cenderung datar, jadi kalau diangkat jadi film butuh ditambah beberapa bumbu pemanis?). However, filmnya yang berjudul “I et speil i en gåte” ini udah memenangkan beberapa penghargaan, diantaranya Amanda Awards di Norwegia buat kategori Best Children’s or Youth Film dan di Chicago International Children’s Film Festival buat kategori Live-Action Feature Film or Video - Foreign Language, jadi rasanya tetap layak dicari dan ditonton. Dan ada motivator tambahan bagi gue pribadi buat memburu film ini… habisnya cowok yang jadi summer crush-nya Cecilia di situ, itu kok lucu sih, kok cakep sih .////. #eaaa #ujungujungnya #malahfangirling #dhuakk

January302012
“Which of us has not felt that the character we are reading in the printed page is more real than the person standing beside us?” Cornelia Funke (via ihrtbks)

(via booklover)

9PM
January282012

Revolusi Iran; Dongeng Seorang Anak (Persepolis; The Story of A Childhood)


  • Judul Buku : Revolusi Iran; Dongeng Seorang Anak (Persepolis, The Story of Childhood)
  • Pengarang & Ilustrator : Marjane Satrapi
  • Penerjemah : Tim Resist
  • Penerbit : Resist Book
  • Cetakan : I, November 2005
  • Ukuran : vi + 154 hlm; 15 x22 cm
  • Nilai: B+

Siapa bilang kalau isu penting dan ‘berat’ macam pergolakan politik politik di suatu negara nggak bisa dituangkan dalam bentuk yang ‘ringan’ macam cerita bergambar? Dan siapa bilang kalau isu penting dan ‘berat’ itu nggak bisa diceritakan dari kacamata seorang anak? Novel grafis ini buktinya.

Revolusi Iran; Dongeng Seorang Anak adalah memoar autobiografi sang penulis, Marjane Satrapi. Buku ini aslinya berjudulu Persepolis; The Story of A Childhood, dan merupakan buku pertama dari dua buku serial Persepolis. Pertama-tama, gue kurang tahu kenapa versi terjemahan dari penerbit Resist Book ini diganti judulnya jadi ‘Revolusi Iran’? Apa biar pembaca di Indonesia (sebuah negara yang juga pernah mengalami revolusi) ngerasa lebih familier sama topiknya, dibandingkan judul aslinya, Persepolis, yang merupakan nama ibukota kuno kerajaan Persia? Kedua, gue juga kurang tahu apakah penerbit ini juga menerbitkan Persepolis jilid duanya, karena yang gue baca ini cuma pinjaman dari perpustakaan universitas, dan waktu ngubek-ubek di rak gue cuma berhasil nemu yang jilid satu ini. Semoga sih diterbitin juga ya, secara dua jilid Persepolis itu bersambungan nyeritain tahapan perkembangan hidup Marjane Satrapi dari masa kanak-kanak sampai tumbuh dewasa. Dalam buku jilid pertama ini beliau menceritakan fragmen-fragmen kisah hidupnya sendiri selama rentang tahun 1980 sampai 1984, sejak Marji—panggilan akrab Marjane—berusia sepuluh sampai empat belas tahun.

Sebagai seorang anak kecil, Marji selugu anak-anak lain: awalnya percaya saja ajaran guru dan buku pelajaran sekolahnya bahwa Shah adalah raja yang dipilih Tuhan; nggak paham kenapa setelah Revolusi Islam tahun 1979 terjadi sistem pendidikan sekuler dihapuskan, anak-anak perempuan dan laki-laki harus belajar di sekolah terpisah, dan kenapa anak-anak perempuan jadi diwajibkan mengenakan jilbab padahal menurut mereka itu panas. Marji juga nggak mengerti kenapa orangtuanya yang dideskripsikannya sebagai ”modern dan avant-garde” berdemo menentang ketidakadilan dalam pemerintahan Shah setiap hari, tetapi dalam keluarga mereka sendiri pembantu makan secara terpisah. Hal-hal yang membingungkan ini membuat Marji kecil sempat bercita-cita menjadi seorang nabi, dia bahkan punya “teman imajiner” yang dipercayainya sebagai Tuhan, berupa sosok lelaki tua berjanggut putih yang sering menemaninya tiap malam. Marji kecil sendiri selalu ingin ikut berdemonstrasi bersama orangtuanya, menganggap demo itu keren, mirip perjuangan Che Guevara atau Fidel Castro, tanpa mengerti seberapa bahaya sebenarnya tindakan itu. Ketika Shah akhirnya turun takhta dan para tahanan politik dibebaskan, Marji malah iri kenapa ayahnya tidak pernah dipenjara dan disiksa seperti ayah temannya Laly, karena para tahanan itu dielu-elukan sebagai pahlawan. Kepolosan Marji waktu kecil ini kadang memang bikin gemes sendiri bacanya =)).

Selanjutnya, seiring waktu, Marji semakin menyadari bahwa rezim Islam fundamentalis yang berkuasa setelah rezim Shah ternyata bukannya melegakan justru semakin membatasi kebebasan rakyat. Cara berpakaian Islami diwajibkan, hal-hal yang berbau kebarat-baratan dilarang, termasuk musik, film dan bentuk hiburan lainnya. Jika ketahuan melanggar, akan datang ‘petugas pengawal revolusi’ yang siap “menghukum” mereka—dengan siksaan. Orang-orang yang dianggap oposisi ditangkapi dan dieksekusi. Ketika pecah perang antara Iran dengan Irak keadaan bahkan bertambah buruk lagi: ancaman pesawat-pesawat pengebom yang bisa datang setiap waktu; anak-anak lelaki Iran dicuci otaknya lalu dikirim ke garis depan peperangan sebagai martir; kesulitan memenuhi kebutuhan hidup yang semakin langka; orang-orang yang kehilangan teman atau kerabat yang tewas atau rumah-penghidupan yang hancur karena perang. Selama fase yang ‘berat’ ini, Marji tumbuh menjadi gadis dengan pikiran kritis dan peka terhadap kondisi negara dan orang-orang di sekitarnya.

Bisa dilihat bahwa peran keluarga, terutama kedua orangtua, sangat berpengaruh pada perkembangan diri Marji. Merekalah yang sejak awal membentuk dan mendorong sikap kritis Marji agar semakin berkembang. Mereka membekali Marji dengan buku-buku agar wawasan pengetahuannya bertambah dan pikirannya terbuka. Sikap dan pendirian mereka yang progresif juga turut membentuk sikap Marji yang pemberontak, ingin melawan ketidakadilan yang dirasakan sekitarnya. Gue mencatat ada dua kejadian yang paling membekas pada diri Marji (dan membacanya pun gue ikut ngerasa haru dan nyesek—peraaan kayak pingin ikut nangis), yang bikin sifatnya lebih ‘keras. Dua-duanya pengalaman sewaktu dia kehilangan orang-orang yang disayanginya: paman dan tetangganya. Lucunya, ada satu cerita di mana layaknya anak muda, Marji juga kadang menganggap tingkah orangtua itu bentuk kediktaktoran, dan dia melawan dengan cara mencoba merokok pertama kalinya diam-diam. Meskipun rokok ternyata nggak enak, Marji tetap menandainya sebagai peristiwa ‘beralih’nya dia dari anak-anak jadi orang dewasa :)).

Format yang berupa novel grafis ternyata memang lebih memudahkan gue mengikuti panel demi panel gambarnya, jadi menamatkan buku ini pun cukup semalaman aja. Padahal muatan isi dan pesan yang disampaikan buku ini nggak bisa dibilang ‘ringan’ lho. Gambarnya yang jelas sih memang bukan tipe gambar cantik nan indah a la manga-manga Jepang gitu, kesannya sederhana, tapi rasanya memang lebih cocok ya buat nyeritain tema buku ini yang cukup serius: proses pencarian jati diri seorang anak yang tumbuh di negara yang politiknya nggak stabil. Sayangnya novel grafis itu, bagi gue setidaknya, meski gampang diikuti bukan berarti lebih gampang dipahami secara menyeluruh. Sifatnya jadi impresionis; gue yakin permainan warna atau bentuk gambar tertentu pun bisa ada makna simbolisnya sendiri dalam buku ini, tapi nggak selalu bisa gue tangkap dan pahami dalam sekali-dua kali baca, bahkan baru ngeh waktu gue googling ke beberapa situs—diantaranya ke gradesaver.com. Lalu karena minim teks dan lebih menekankan gambar, ada hal-hal yang jadinya lagi-lagi harus gue googling sendiri biar lebih paham. Misalnya soal sejarah revolusi Iran itu sendiri, gue agak bingung sama kronologis kejadiannya kalau cuma mengandalkan info dari buku ini.

Sudut pandang penceritaan dari mata anak-anak juga jadi salah satu poin plus buku ini, bikin ceritanya ngalir jujur dan bebas, di antara hal-hal serius kadang justru bisa bikin ketawa, diantara hal-hal yang menggembirakan jadi terselip ironi. Lepas dari apakah isi dari buku ini mungkin berpotensi menyinggung pihak-pihak tertentu (kaum fundamentalis Islam, misalnya?) kejujuran Marjane Satrapi yang dituangkan dalam buku ini patut diapresiasi. Sebagai memoar autobiografi, wajar lah kalau buku ini sedikit-banyak pasti juga memuat pandangan dan pendirian pribadi penulisnya sendiri, lepas dari pandangan itu mungkin benar atau salah. Setiap orang—dan dalam konteks buku ini nggak cuma merujuk ke Marji tapi juga relevan buat pihak-pihak yang Marji tentang dalam bukunya—toh pasti memperjuangkan apa yang memang diyakini sebagai baik atau benar. Tapi sewaktu berjuang gigihpun pikiran yang terbuka itu tetap diperlukan, dan penting. Apakah yang kita perjuangkan itu sebenarnya udah keluar jalur dari inti keyakinan kita, atau apakah yang kita perjuangkan itu sebenernya keyakinan buta semata? Boleh direnungi masing-masing :D.

Kalau dari teknis, ada kekurangkonsistenan terjemahan yang gue temukan dalam versinya Resist Book ini: kata ganti orang pertamanya kadang pakai “aku” kadang saya “saya”. Kadang di satu panel merujuk pakai “aku” terus di panel berikutnya langsung ganti jadi “saya” padahal lagi nyeritain orang yang sama. Awalnya bikin bingung apakah ada perubahan konteks cerita, tapi rasanya enggak, cuma ya itu tadi, entah gimana kurang konsisten nerjemahinnya, dan meski sepele tapi kekurangan itu lumayan ngeganggu. Tapi selebihnya menurut gue udah oke.

Buku ini jadi yang pertama buat memenuhi Resolusi Bacaan gue, buat lebih banyak baca termasuk dengan cara minjem buku, nggak melulu beli. Ilmu nggak selalu mahal kan ;)

1AM
“Fiction needs its specifics, its anchors. It needs also to pass beyond them. It needs to be weighed down with characters we can touch and know, it needs also to fly right through them into a larger, universal space. This paradox makes work readable and durable, from its impossible tension, something harmonious is born.” Jeanette Winterson, Oranges Are Not the Only Fruit in the Introduction (via distantheartbeats)
January252012
12PM
“If you love somebody, let them go,
for if they return, they were always yours.
And if they don’t, they never were.” Kahlil Gibran (via vivianvo) (via quote-book)
January242012

Refleksi dan Evaluasi Bacaan Tahun 2011, dan Resolusi 2012

Yah, meskipun sekarang udah minggu-minggu akhir Januari 2012, gue rasa belum telat ngepos ini, kan? Lebih baik telat daripada nggak sama sekali kan? Haha, alesan banget ya :p . Gimanapun, gue sendiri ngerasa tetep perlu buat mempertanggungjawabkan Resolusi Bacaan yang gue bikin untuk tahun 2011 kemarin (bagi yang belum ngeh silakan cek ke sini). Ibaratnya kalau menjalankan sebuah proyek itu musti ada LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban)-nya. Dan bukan berarti pula gue berhasil dengan gilang gemilang ngejalanin resolusi kemarin lho >_<, justru banyak target poin yang belum tercapai bikin gue merasa makin butuh buat mempertanggungjawabkan itu kepada pembaca blog gue, sekaligus diri gue sendiri.

Pokoknya langsung aja cekidot… tapi siap-siap ya, panjang soalnya ‘ ‘)/

Read More

10AM
January222012
sonhodepurkinje:

François Schuiten (XX)

sonhodepurkinje:

François Schuiten (XX)

(via teachingliteracy)

← Older entries Page 1 of 18